Jejalan dan Saya "Jeri Kusumaa"

Sebenarnya ini adalah sebuah tulisan untuk diri sendiri, tetapi tidak ada salahnya untuk saya sharing dengan yang lain. Melalui tulisan ini saya mencoba untuk mencari tahu latar belakang kenapa saya jadi suka aktivitas Jejalan. Jika mencoba saya runut sekilas sepertinya memang tidak lepas dari pengaruh lingkungan dimana saya tumbuh mulai dari masa anak-anak hingga dewasa. Hmm, sepertinya saya harus mensepakati sebuah teori Psikologi yang pernah saya dapatkan ketika semasa kuliah. Teori social learning atau pembelajaran sosial oleh Miller dan Dollard  dan di sempurnakan oleh ahli-ahli psikologi lainnya. Jika saya boleh menyimpulkan adalah sebagai berikut, pengalaman hidup seseorang sedikit banyak akan mempengaruhi perilaku, pola pikir dan kesukaan seseorang.

Pandji Asmoro
Almarhum Bapak Berserta Teman Satu Kompinya

Hasil runutan pertama yang dapat saya ingat adalah keluarga dan orang tua. Bapak saya (alm) yang seorang tentara sekaligus veteran trikora adalah sosok yang berperan besar akan kesukaan jejalan. Saya masih ingat betul beberapa ceritanya ketika bertugas diberbagi penjuru tanah air, mulai dari Papua (dulu Irian Jaya), Kalimantan, Timor Timor sampai ke Aceh. Cerita tentang keindahan alam hingga budaya dan perilaku khas masing-masing penghuni nusantara ini-pun cukup menarik. Tidak lupa juga kisah cintanya ketika bertugas di Manado – Sulawesi Utara yang pada akhirnya mempersunting Ibu saya. Hehe. Termasuk sebuah kisah perjalanan-perjalanan yang menyertainya hidup mereka berdua, seperti bagaimana ketika hijrah dari Sulawesi Utara ke Jawa dengan menumpang kapal barang bermuatan sapi ternak. Sebuah kisah abadi nan panjang yang akan selalu mengispirasi saya untuk dapat menjelajah negeri ini lebih jauh lagi.

Saya juga masih ingat betul ketika masih kecil, seringkali saya diajak berkeliling untuk jejalan oleh Bapak. Mulai dari sekedar kunjungan ke markas Beliau dan mengendarai tank tua buatan Rusia hingga ke truk besar pengangkut pasukan dan logistik. Atau wisata keluarga ke tempat-tempat populer seperti Bali, Borobudur, Taman Mini, Dufan dan juga banyak tempat lainnya, tentunya hal itu menjadi pengalaman tersendiri buat saya.

Borobudur Trip
Borobudur Trip
Gajah Kebun Binatang Surabaya
Naik Gajah KBS
Pertunjukan Wayang Boneka di Ancol
Pertunjukan Wayang Boneka di Ancol
Liburan Keluarga di Pantai Bunaken
Liburan Keluarga di Manado

Menginjak SMP saya terlibat aktif sebagi seorang Pramuka, tidak banyak memang aktivitas outdor resmi semasa saya ikut Pramuka. Tetapi bersama sahabat dekat satu kampung, seringkali saya berpergian sendiri. Susur sungai dan keluar masuk hutan adalah aktivitas ekstrem sekaligus menarik yang pernah saya lakukan. Dari sana saya banyak belajar cara-cara bertahan hidup (survival) dengan cara paling tradisional dan amatir. Mulai dengan Camping ala kadarnya hingga bagaimana cara menangkap udang dan ikan disungai sebagai menu tambahan selain singkong bakar hasil mencuri di kebun terdekat dengan jalur petualangan kita, dikejar-kejar petani ketika kepergok mencuri-pun juga pernah saya alami, hehe. Untuk membeli coklat yang cukup sebagai bekal masuk hutan adalah hal mustahil bagi kami seorang anak SMP saat itu. Maka Karak (Nasi Kering) + kopi panas adalah makanan  tambahan yang nikmat dan cukup sukses sebagai pengganjal perut dan kedinginan selama beberapa hari di hutan. Bagi yang tidak terbiasa sudah dapat dipastikan perutnya akan mules seharian jika memaksa untuk mencobanya. haha. Sebenarnya kita bisa membawa beras sebagi bekal, namun cara mengolah dan peralatan mengolahnya yang tidak praktis membuat saya enggan membawanya.

Cara yang sampai sekarang saya ingat jika ingin menangkap burung sebagi menu makanan lainnya adalah dengan menggunakan getah pohon (terutama pohon nangka) sebagai perangkap di dahan-dahan pohon. Tetapi jika musim hujan akan jauh lebih menyenangkan lagi, kita cukup melempari pohon yang diduga sebagai tempat berteduh beberpa burung dengan bebatuan. Ketika mereka berterbangan mengindar maka air hujan akan membuat mereka tidak bisa berkutik dengan leluasa, dan pada akhirnya jatuh ke tanah juga. hehe. Sebuah kejadian lagi yang membuat saya teringat betul adalah ketika jatuh dari pohon yang cukup tinggi ketika akan menangkap burung. Untungnya tangan kanan masih bisa reflek menggapai dahan besar di bagian posisi bawah pohon sebelum tubuh benar-benar jatuh menyentuh tanah. Fiuhh!.

Atau Juga sebuah pengalaman pahit awal mula saya bisa berenang, dimana saat itu saya masih kelas dua atau tiga SD (saya sendiri lupa tepatnya). Sebuah banjir di Sungailah yang memaksa saya untuk bisa berenang. Lha bagaimana lagi, teman-teman bermain saya saat itu yang kebanyakan adalah anak dewasa, suka bermain menghanyutkan diri ketika banjir datang di sungai desa. Hampir tenggelam adalah pengalaman yang cukup saya ingat ketika duet menghanyutkan diri dengan sebatang pohon pisang bersama teman. Haha!. Sebuah pengalaman gila jika saya mencoba mengingat-ingatnya lagi.

Dari sekian hal pengalaman seru itu ada sebuah hal yang membuat saya sedikit kecewa. Kenapa saya tidak mendokumentasikan hal-hal tersebut ya, mengingat dirumah sebuah tustel (kamera film poket jadul) sudah tersedia. Sebuah kemuduran menurut saya, padahal orang tua saya sendiri selalu mendokumentasikan kegiatan travelingnya. Kenapa saya sendiri tidak terpikirkan ya waktu itu, bahkan aktivitas petualangan dan traveling saya ketika SMA dan Kuliah sekalipun kurang saya dokumentasikan dengan baik 🙁

Sampai pada sebuah waktu di bandara Soekarno Hatta (masa ketika saya sudah berkerja), saya membaca sebuah artikel di majalah Travelounge edisi juni 2010, dari seorang traveler yang kebetulan adalah adik kelas saya kuliah. Yah kejadian itu menggugah saya untuk mendokumentasikan setiap perjalanan saya sekecil apapun. Dan dari dialah saya mencoba untuk belajar menulis walaupun saya tahu betapa susahnya itu, presentasi Blogging Without Planning-nya yang melegenda itu adalah motivasi tersendiri bagi saya. Tulisan saya kali ini secara tidak langsung merupakan bentuk ucapan terima kasih saya kepada Ayos Purwoadji yang sekarang menjadi sahabat baik saya. Thanks Broo atas inspirasinya :).

Yup demikian tulisan singkat tentang sejarah kesukaan saya akan traveling. Semoga rekan saya juga mau menuliskan pengalaman hidupnya yang membuat dia tertarik untuk ber-Traveling ria. hehe. Salam.

2 comments on “Jejalan dan Saya "Jeri Kusumaa"

  1. Lukman Simbah

    cup cup muah muah Jer! i love it! very personal!

    • Anonymous

      Hehe suwun mbah, sebenarnya banyak yang ingin tak ceritain tetapi susah buat mensinkronkan antara apa yang ada dipikiran dalam bentuk tulisan. Tp gpp setidaknya saya sudah mencoba sedikit kaya” yang diatas 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *