A Trip to Siem Reap [part 3]

Trekking Gambling Pusat Kota – Kompleks Angkor Wat

(06.30 Waktu Kamboja)

Sesuai rencana semula, pagi buta itu kami akan memulai mengunjungi kompleks Angkor Temple. Dari peta yang kami download via internet, jarak pusat kota ke AngkorWat kurang lebih 6-8 km. Namun kami masih ragu untuk menuntaskan perjalanan kesana menggunakan Tuk-Tuk carteran, mengingat jiwa muda masih menggelora, rasa-rasanya 6-8 km tidaklah terlalu jauh. Akhirnya, dengan modal kenekatan serta fisik yang lagi on fire, kami berdua sepakat untuk melakukan trekking dari Pusat Kota – Angkor Wat dengan berjalan kaki mulai pukul 06.30. Hitung-hitung sembari mencari sarapan yang bisa ditemukan di kios pinggir jalan.

Namun segalanya tidak semudah yang dibayangkan. Jam segitu, kondisi kota SiemReap masih serasa pukul 05.00 pagi, masih sedikit gelap dan sepi. Tidak ada satupun gerai makanan yang buka, bahkan toko swalayan di pinggir kota pun tidak menyediakan roti ataupun snack yang cukup untuk bekal sarapan. Di ujung perbatasan kota, beberapa pengemudi tuk-tuk menawari kami tarif 20 USD untuk antar jemput ke kompleks candi, namun kami terpaksa menolaknya. Sudah kepalang tanggung trekking terlanjur separuh perjalanan, sebentar lagi juga sampai.

Hampir satu jam perjalanan, kami sudah melewati perbatasan kota. Kondisi jalan mulai sepi dan lingkungan sekitar terlihat lebih mirip hutan homogen seperti dalam profil banner film horor Hollywood, Dead End. Pikiran kami mulai diliputi keraguan, tidak ada lagi lalu lalang kendaraan maupun keramaian. Hanya sesekali terlihat sekelompok petani dengan sepeda kayuhnya yang melintas dengan pandangan aneh terhadap kami berdua, tapi kami tak patah semangat dan terus melangkah.

Di salah satu tepi jalan, terlihat gubuk sederhana dengan sebuah halaman seluas setengah lapangan bola. Ternyata itu adalah kompleks rumah sekaligus workshop penggiat seni lukis warga lokal. Terlihat dari kejauhan, beberapa pria setengah baya asyik menggores kuas diatas kanvas. Ada perasaan sedikit lega, mungkin kami bisa mencoba mendapatkan informasi mengenai benar tidaknya rute kami menuju Angkor Temple.

Baru saja kami melangkahkan kaki turun dari jalanan aspal dan hendak memasuki halaman, kami dikejutkan oleh serbuan empat ekor anjing sebesar anak sapi yang kiranya tadi asyik tidur di semak-semak tepi jalan. Dengan agresif mereka berlarian mengitari kami berdua sembari memamerkan taring berliurnya, serta meneror kami dengan gonggongan yang suaranya membuat jantung hampir copot ketakutan. Jangankan mencoba mendekati para seniman lukis di gubuk-gubuk itu, melangkahkan satu kaki masuk kedalam halaman saja, kawanan anjing itu semakin beringas.

Bisa ditebak, kami mengurungkan niat dan kembali melangkah perlahan disisi jalan aspal. Sambil tetap menjaga jarak dengan mereka, kami mulai pergi melanjutkan perjalanan. Meski demikian, kawanan anjing itu terus memprovokasi dengan gonggongan dan gerakan-gerakan agresif sembari berlarian mengitari kami berdua, seolah mengawal kami agar segera meninggalkan daerah itu secepat mungkin.

Benar-benar pengalaman gila, anjing-anjing tadi hanya berjarak satu meter saja dengan kami, kalau sampai salah tindakan seperti panik dan mencoba lari misalnya, tentu saja keadaan bisa berubah lebih konyol. Apalagi ketika tadi kami lihat orang-orang digubuk seolah cuek saja melihat anjing mereka “mempermainkan” tamu asing tak diundang seperti kami. Pantas saja dari tadi orang-orang yang melewati jalan ini semuanya menggunakan kendaraan. Lagipula kami memang tidak terbiasa menghadapi binatang sperti anjing.

Setidaknya, kami masih bisa bernafas lega bisa menghindar dari teror anjing-anjing itu. Namun halangan belum berakhir. Baru 15 menit perjalanan, kami sudah tiba disebuah pertigaan dengan lalu-lalang kendaraan yang cukup ramai. Ada sedikit kelegaan bisa menemukan keramaian, akan tetapi ketegangan kembali berlanjut. Semakin dekat ke pertigaan, semakin jelas terlihat sebuah pos mirip dengan pos penjagaan militer di perbatasan. Dan seorang mbak-mbak petugas berseragam menyambut kami dengan senyum yang terlihat disengaja menutupi kecurigaan.

“Ticket please…!”, demikian mbak petugas berseragam mirip pegawai bank itu menodong kami.

“Tiket…?”, pikir kami, sejurus kemudian pandangan kami berdua menyapu sekeliling pertigaan itu. Mulai terlihat area terbuka demikian lapang, berbeda dengan jalanan hutan yang baru terjelajahi. Samar-samar tampak di kejauhan, candi-candi berukuran besar dengan warna batu yang menunjukkan betapa tua usianya. Barulah kami sadar,  ternyata kami sudah memasuki kompleks percandian di Angkor Wat. Akhirnya, kami jelaskan bahwa sebenarnya kami juga hendak mencari tempat penjualan tiket.

“Impossible.., if both of you standing up here right now, you must have a ticket or you got penalty…”, lanjutnya.

Melalui perdebatan yang seru, kami terus meyakinkan bahwa kami tidak tahu dimana tempat penjualan tiket, hingga saat ini pun kami sedang mencarinya dan tanpa sadar telah tersesat masuk kedalam kompleks candi. Namun petugas itu tidak percaya sepenuhnya, dia berkeyakinan bahwa kami sengaja menerobos jalan “bukan” umum untuk bisa masuk kedalam kompleks secara sembunyi-sembunyi. Apalagi didukung tampang asia kami yang mirip warga lokal, dan datang hanya dengan berjalan kaki.

Sejurus kemudian, dia mengangkat telepon dan dari bahasa yang saya tangkap, sepertinya sedang menghubungi petugas kepolisian. Wah, situasi semakin tidak kondusif. Dia meminta kami berdua masuk dan menunggu didalam pos. Untungnya dia tidak segalak petugas imigrasi bandara sebelumnya, jadi kami masih bisa mencoba mengobrol berbasa-basi dengannya. Dari pembicaraan itu kami tahu, tidak pernah ada turis yang masuk ke Kompleks dengan berjalan kaki, semuanya pastilah menggunakan kendaraan carteran seperti mobil, ojek motor, maupun tuk-tuk. Minimal mereka datang dengan menyewa sepeda dari kota. Karena sebenarnya Kompleks candi Angkor tidak hanya ada Angkor Wat saja, tapi ada puluhan candi lain yang tersebar di area seluas ratusan hektar. Pantas saja dia curiga karena kami belum membeli tiket dan datang dari arah yang tidak lazim.

Tak berapa lama datanglah seorang petugas polisi wisata menggunakan motor. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, dia “menginterogasi” kami masalah paspor, dan alasan tersesat di tempat ini. Tak lupa dia juga mencoba mengecek kebenaran tempat menginap kami di Hotel. Tatkala terbukti bahwa kami memang turis yang sengaja menyesatkan diri, dia menawari mengantar menuju tempat penjualan tiket yang ternyata berjarak 8 km dari Pos ini. Dia tidak bersedia ketika kami menitipkan uang untuk membeli tiket sementara kami menunggu di pos, dia bersikeras agar kami berdua tetap ikut ke tempat penjualan tiket. Akhirnya, kami menikmati pengalaman yang demikian langka, berboncengan tiga tanpa helm dalam satu motor, disopiri seorang polisi pula. Mirip dengan turis kriminal yang hendak dideportasi, hehe.

Usut punya usut, pantaslah polisi tadi dengan bahasa inggris yang tidak jelas bersikeras mengantar kami berdua ke tempat pembelian tiket. Ternyata untuk setiap tiket yang dibeli, disertai dengan foto close-up wajah turis yang bersangkutan, disertai tanggal tiket. Dengan tarif masuk seharga 20 USD per orang per hari, kita bisa leluasa menjelajah seluruh candi di distrik ini. Dan jika kita ingin mengeksplore lebih puas lagi, disediakan paket 40 USD untuk tiga hari kunjungan.

Selesai persoalan tiket, kami dihadapkan problem baru lagi. Dengan berjalan kaki, kami tidak akan bisa menjangkau lebih dari dua candi dalam satu hari kunjungan. Padahal tiket masuknya sangat mahal. Atas saran beberapa petugas tiket, kami minta polisi tadi mengantar kami menuju candi terdekat dengan biaya ekstra. Lantas kami melanjutkan kunjungan dengan menyewa kendaraan.

Akhirnya, dengan memberi tips kepada petugas polisi tadi, kami diantar kembali menuju candi terdekat didalam kompleks. Tepat pukul 08.30 waktu Kamboja, kami telah sampai didepan Angkor Temple. kebetulan didepan kompleks cukup banyak tukang ojek dan sopir tuk-tuk yang mangkal, segera pula mereka menawarkan diri mengantar kami.

Setelah berbagai pertimbangan, kami memutuskan menyewa tuk-tuk untuk berkeliling candi sampai sore, sekaligus mengantar pulang ke penginapan di kota. Sepakat dengan tarif 15 USD, kami berkenalan dengan Mr. Thou. Sopir tuk-tuk bertubuh subur mirip aktor Sammo Hung dimasa muda itu, untuk mengawal kami menjelajah kompleks candi selama sehari. Harga 15 USD memang masih wajar, karena biasanya satu tuk-tuk menggunakan tarif 20 USD untuk menjemput turis di kota, mengantar keliling candi, dan mengantarnya kembali ke kota. Akhirnya petualangan hari kedua di Kamboja dimulai sudah.

Notes : Sebaiknya menyewa kendaraan sendiri untuk berkeliling Kompleks candi. Di pusat kota, anda bisa menyewa sepeda kayuh dengan tarif cuma 1 USD per hari, dan anda bisa memuaskan diri berkeliling sembari olahraga. Tarif tuk-tuk adalah 10 USD untuk keliling kompleks, dan 10 USD lagi untuk antar jemput dari dan menuju kota.

Menghitung Seribu Wajah Bayon Temple

(09.00 Waktu kamboja)

Sesuai saran Mr. Thou, kunjungan kami kali ini disetting terbalik dari jalur normal. Rata-rata rombongan tour para turis dalam satu hari, dimulai dari pagi hari ke Angkor Wat, dan diakhiri sore harinya di Ta Prohm, candi tempat setting Tomb Raider. Agar supaya tidak bertemu dengan rombongan turis berjumlah besar, yang beresiko mengurangi keleluasaan mengeksplorasi candi. Kami memulai kunjungan dari tengah jalur, dan pada nantinya diakhiri di Angkor Wat pada sore hari saat sepi.

Bayon Temple adalah lokasi pertama yang kami jelajahi. Letaknya sekitar 3,5 km dari Angkor Wat, dan hanya 1,5 km jauhnya dari South Gate of Angkor Thom yang sangat khas. Dengan posisi candi yang menghadap ke Timur, Bayon Temple dihiasi oleh sepasang kolam didepannya. Kolam air khas candi-candi di Angkor Thom.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half_end]

Salah satu keunikan Bayon Temple adalah hampir disetiap sudut Candi, terdapat tower yang dihias dengan wajah yang menampilkan senyum, masing-masing empat wajah disetiap tower yang menghadap kearah empat penjuru angin. Konon itu menunjukkan agar supaya Raja senantiasa mampu meihat ke segala arah, untuk memastikan bahwa rakyatnya tetap sejahtera dan makmur diseluruh penjuru kerajaan. Karena itu pula, Mr. Thou sopir tuk-tuk kami menyebut Bayon dengan nama Candi Seribu Wajah. Padahal menurut perhitungan matematis kami, jumlah wajahnya sekitar 216 relief pada 54 buah tower.

Seperti candi-candi SeamReap pada umumnya, kondisi bebatuan di Bayon temple juga sudah tidak sempurna. Ada yang masih bersih, sebagian ditumbuhi lumut, berdebu, dan rusak. Mengakibatkan warnanya seolah “luntur” dan tidak seragam. Tentunya masih lebih terawat candi-candi batu di Yogyakarta seperti Prambanan atau Borobudur. Belum lagi beberapa gerbang dan pintu masuk candi banyak yang mengalami kerusakan parah hingga ada pula yang runtuh, mengakibatkan beberapa turis kebingungan dan nyaris kehilangan orientasi di candi seluas lebih dari 4 ha itu. Dengan kondisi dan besar ukurannya, sebagian guide lokal juga menyebutnya dengan Candi Seribu Pintu.

Ba Phuon Temple

(10.45 Waktu Kamboja)

Selepas hampir dua jam menjelajah Bayon, kami berjalan kaki menyambangi Ba Phuon Temple yang tepat berada disamping kirinya. Sama halnya dengan Bayon, bagian depan Ba Phuon juga dihiasi oleh dua kolam simetris yang sayangnya sudah rusak dan kering. Sehingga memungkinkan beberapa pengunjung berjalan memotong kompas menuju candi, melintas diatas hamparan tanahnya yang telah ditumbuhi rumput tipis. Namun kami justru memilih melintasi akses utamanya yang terbuat dari pasangan batu sepanjang 200 meter, sembari mengambil beberapa foto dan video.

Sayangnya saat ini BaPhuon sedang direnovasi besar-besaran, sehingga tidak memungkinkan bagi para pengunjung untuk memasuki bangunan utamanya. Beberapa teknisi dengan helm proyek beralu lalang naik turun ke area puncak utama candi setinggi 43 meter ini. Pengunjung hanya diperbolehkan menikmati candi dari gerbang masuk pertama, atau di level 1.

Berjalan memutar, kami menuju area belakang candi yang terletak di sisi barat. Kendati masih dalam kondisi rusak dan dipenuhi teknisi, kami masih bisa menyaksikan sebuah kekhasan BaPhuon Temple. Yakni patung Buddha Tidur sepanjang kurang lebih 60 meter, yang kerapkali menjadi jujugan para turis untuk berfoto.

Menjajal Food Terrace ala Angkor

(11.30 Waktu Kamboja)

Menjelang siang, kami baru sadar jikalau sejak pagi tadi kami belum sarapan. Apalagi setelah menyadari bahwa batre kamera mulai menipis. Atas saran sopir tuk-tuk Mr. Thou. Kami segera meluncur menuju Food Terrace di sebelah Timur, sekedar mengisi perut sembari mencari koneksi listrik untuk men-charge batre kamera.

Kondisi Food Terrace disini hampir mirip Warteg pinggir jalan di Indonesia. Dengan tiang penyangga dari bambu, beralas tanah, atap rumbia dan atap terpal, bahkan tanpa dinding sekalipun. Untungnya masing-masing warung berukuran 8 x 8 meter, cukup leluasa untuk menempatkan meja kursi dengan tatanan ala resto yang memanjakan pengunjung.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half_end]

Memesan menu Nasi Goreng Telur dengan minuman Fresh Milk with Ice, kami berdua menikmati Brunch (Breakfast and Lunch) yang sederhana di Kompleks Candi Angkor Thom. Setidaknya, walau tarif makanan relatif mahal (4 USD per orang). Kami bisa mengisi perut sembari istirahat sejenak. Dan paling penting bisa mendapatkan pasokan listrik untuk batre kamera kami.

Chau Say Tevoda dan Thommanon Temple

(12.00 waktu Kamboja)

Dengan kondisi perut kenyang, badan segar, juga batre kamera terisi penuh. Kami meluncur menuju kearah Timur. Berhenti sejenak di Gerbang Timur Angkor Thom yang kondisinya masih relatif terawat. Sejenak kemudian kami sampai di Chau Say Tevoda. Beruntung saat itu kondisi sedang sepi turis, kami berdua leluasa menjelajah sekeliling candi.

Chau Say Tevoda kondisinya masih bagus, pasangan batu-batunya rapi dengan warna yang seragam. Namun sama dengan candi sebelumnya, akses utama juga dari arah Timur. Dengan teras batu datar sepanjang kurang lebih 30 meter, tentunya dihiasi dengan keberadaan dua kolam yang mengapitnya telah dalam kondisi kering.

Sementara itu, tepat diseberang jalan sebelah Utara Chau Say Tevoda, terdapat candi lain dengan bentuk dan tampilan yang nyaris sama. Itulah Thommanon Temple. Sama halnya dengan Chau Say Tevoda, Thommanon dibangun pada pertengahan abad ke-12 oleh Raja Suryawarman II. Kedua candi dibangun dan didedikasikan pada Dewa Siwa dan Dewa Wisnu.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half_end]

Sayang sekali kami tidak bisa menemukan area teras Thommanon yang sekarang telah ditumbuhi rerumputan, setidaknya candi ini juga memiliki orientasi yang sama, yakni menghadap kearah Timur. Namun meski demikian, kondisi kedua candi masih lumayan terawat. Karena informasi dari Mr. Thou, kedua candi ini pernah direnovasi, salah satunya pada tahun 1960-an. Jauh sebelum terjadinya perang saudara di Kamboja.

Memacu Adrenalin di Ta Keo Temple

(13.00 Waktu kamboja)

Tatkala matahari terik berada tepat tegak lurus diatas kepala, kami sedang menyambangi Ta Keo Temple. Candi besar seukuran BaPhuon ini berdiri dengan megah diatas tanah lapang sedikit gersang. Dengan warna batunya yang putih kecoklatan, serta posturnya yang khas, tinggi pula terjal.

Mr. Thou sudah mewanti-wanti agar kami berhati-hati bila ingin naik ke puncak TaKeo, karena ketinggiannya diatas rata-rata, dengan undak-undakan yang sangat curam. Apalagi di siang yang terik itu, baru mencoba setengah jalan, kami langsung merasa pening dengan nafas mulai memburu. Pantaslah jika kami menyebutnya dengan “Wall-Climbing Temple”, karena ke-terjal-an undak-undakannya sangat “tidak manusiawi”. Pijakan kaki tidak lebih dari 15-18 cm, sementara tanjakan malah lebih dari 40 cm. Sepertinya butuh tenaga ekstra dan sedikit ilmu “meringankan tubuh” untuk dapat mencapai puncaknya. Darah berdesir dengan adrenalin terpacu ke titik puncak, kami dipaksa berolahraga di siang nan terik ini.

Dari dua level tangga yang kami naiki, Ta Keo memiliki sebuah plaza yang cukup luas sebagai dasar area puncaknya. Dari plaza terbuka itulah, kami bisa menikmati sekeliling pemandangan yang didominasi oleh semak belukar dan rawa kering. Tak lupa pula menyempatkan diri berpose bak “pendaki” yang telah menaklukkan puncak gunung. Tentunya sebuah gunung yang sangat terjal, hehehe.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half_end]

Tidak perlu berlama-lama diatas TaKeo Temple, selain terik mentari yang menyengat ubun-ubun, kami juga masih mengejar waktu menuju candi-candi lainnya. Dan petualangan menuruni TaKeo pun menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Sangat sukar dan berbahaya menuruni candi curam itu, naiknya susah, turunnya pun tambah susah. Tak heran beberapa turis yang tidak punya “nyali” untuk naik ke puncak TaKeo, hanya bisa memandang kami berdua yang berjalan miring ala “yuyu kangkang” menuruni pijakan demi pijakan tangga Ta Keo. Dan kami sangat yakin, jantung mereka pasti berdebar-debar menyaksikan aksi kami siang itu.

Orkestra Pinpeat yang Menyentuh Kalbu

(14.00 waktu Kamboja)

Setelah perjalanan panjang menembus hutan dan menyebrangi jembatan, sampailah kami pada salah satu spot populer selain Angkor Wat, Ta Prohm Temple. Tak seperti biasanya, kami masuk melalui belakang kompleks candi tepatnya melalui pintu utara. Kami tidak mengira setelah memasuki pagar candi yang terbuat dari batu bertabur tanaman rambat, kami masih harus melintasi hutan semak belukar dengan pohon-pohon raksasa. Di sepanjang perjalanan menuju candi seluas satu hektar itu, kami disuguhi sekelompok orang-orang setengah baya yang memainkan musik tradisional khas kamboja (Cambodian Pinpeat). Dengan menggelar tikar di pinggir jalan setapak hutan, mereka mengharap belas kasihan dari para pengunjung yang sesekali memperhatikan papan kecil disamping mereka bertuliskan “VICTIMS OF LANDMINES”.

Sejenak saya berhenti melangkah, suara musik itu seolah membius pendengaran saya. Alunan nada yang kadang naik turun, kadang pula datar. Dipadu oleh ketukan kendang mungil yang temponya tidak bisa ditebak. Hampir sama dengan alunan lagu para pengamen yang kami lihat di Angkor Night Market tempo hari, namun yang kali ini irama lagunya lebih mendekati nada yang sendu dan sedikit pilu. Refleks saya yang sudah terbiasa mengabadikan momen-momen unik tak dapat dicegah lagi, saya membidik rombongan pemusik tradisional itu melalui jendela kamera.

Akan tetapi, mendadak dalam sekejap saya menahan nafas. Dari jendela pembidik kamera, jelas terlihat bahwa masing-masing dari mereka adalah orang-orang dengan keterbatasan fisik. Ada yang kehilangan tangan, kehilangan kaki, bahkan ada yang sebelah mata dan telinganya tidak utuh lagi. Seketika itu juga, perasaan haru dan belas kasihan menyesaki dada. Kendati dari pantulan viewvinder kamera, wajah saya memang seolah terlihat diam tanpa ekspresi, namun sebenarnya hati saya menangis sedih. Lagi-lagi ranjau sisa perang saudara tiga dekade silam itulah yang masih menjadi teror bagi warga sekitar. Saya pun urung menjepret mereka, justru dengan rasa hormat dan penuh respek, kami berdua ganti menempatkan selembar dua lembar pecahan Riel ke kotak kayu tempat sumbangan didepan mereka.

Merasakan Atmosfer ala Tomb Raider di Ta Prohm Temple

(14.00 waktu Kamboja)

Ta Prohm adalah sebuah kompleks candi yang dikepung oleh rimbunnya hutan. Driver kami, Mr. Thou menyebutnya dengan “Temple with 39 Tower”. Tapi orang-orang lebih suka menyebutnya dengan “Tomb Raider Temple”, karena konon candi ini dipenuhi dengan spot-spot fantastis seperti dalam film. Kami pun tak sabar untuk segera menjelajahnya.

Memasuki kompleks candi, kami mendadak merasakan nuansa berbeda, pohon-pohon raksasa dengan akar yang menjalar kesana-kemari, serta reruntuhan candi yang batunya mulai berlumut, membuat darah saya berdesir, dan bulu kuduk sedikit merinding. Terik mentari yang saya rasakan di candi-candi sebelumnya, tidak terasa di Ta Prohm kali ini. Pohon-pohon raksasa itulah yang membuat kawasan candi menjadi lebih sejuk dan asri.

 

Kami berjalan mengikuti alur yang sudah disediakan dengan panduan tali berwarna kuning mencolok. Memang ada benarnya bila para pengunjung tidak lupa akan peta dan petunjuk jalan, karena bisa tersesat diantara hutan dan “Reruntuhan”. Beberapa saat trekking dan menyaksikan keadaan disini, anda akan merasakan kebenaran dari istilah “Power of The Jungle”. Karena kali ini semua spot tidak murni “Candi”, akan tetapi juga “Vegetasi”. Dengan pohon-pohon raksasa yang cabangnya menyeruak diantara sudut bangunan candi bagai dalam film Tomb Raider.

Sesuai saran dari beberapa buku panduan, Ta Prohm Temple memiliki beberapa spot unik yang berbeda dengan wisata Candi-candi lain di dunia. Yakni sebuah “perpaduan” antara sculpture candi dengan vegetasi. Salah satu spot yang sering dikunjungi adalah “Crocodile Tree”, sebuah sudut selasar candi dengan dirambati akar pohon raksasa yang membelitnya. Tidak sedikit wisatawan yang mengambil gambar serta berpose pada panggung buatan yang memang disediakan didepannya. Di sebelah utara Crocodile Tree, ada pula spot favorit lain, yakni “Giant Root”. Bangunan pagar pembatas candi yang hampir runtuh akibat dibelit oleh akar pohon yang diameternya hampir satu meter. Bahkan pada sisi pagar candi dibaliknya juga masih tampak diselimuti oleh akar pohon raksasa itu.

Sementara spot ketiga, yang menjadi lokasi paling favorit. Dan membuat Ta Prohm menjadi lebih sering dikunjungi ketimbang candi-candi lain (termasuk Angkor Wat) adalah Tomb Raider Tree. Kali ini giliran sebuah Tower dengan pintunya yang dipenuhi oleh selimut akar-akar pohon yang sangat rimbun dan berjuntaian. Sehingga terlihat ruangan dibalik pintu tower itu gelap gulita. Sungguh pemandangan yang menarik dan sangat istimewa, jika sedang seorang diri disana, pastinya saya akan merinding juga. Karena terus terang saya bukan seorang Lara Croft yang penuh nyali seperti dalam film. Hehehe.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””][/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half_end]

Satu dua jam terasa kurang mengeksplorasi candi yang orientasinya menghadap Selatan itu. Karena baru kali ini saya pribadi menikmati sebuah wisata heritage yang seolah “membiarkan” obyek wisatanya nyaris “dikuasai” oleh kekuatan alam. Benar-benar sebuah penyajian yang sangat berbeda. Sekali lagi, Power of The Jungle kekuatan Ta Prohm yang membuatnya menjadi candi paling favorit seantero komplek (versi saya pribadi tentunya).

Trekking Membelah Kemegahan Angkor Wat

(16.00 waktu kamboja)

Belum habis keterkaguman atas Ta Prohm Temple, sejenak kami menahan nafas tatkala sampai di depan Angkor Wat. Sebuah karya seni agung yang melegenda, bukti dari salah satu peradaban terbesar di dunia. Tak dapat disangkal lagi, inilah tujuan utama setiap turis yang berkunjung ke SeamReap, Kamboja. Angkor Wat, yang siluetnya menjadi lambang Kerajaan Kamboja ini berdiri dengan gagah di area yang dikelilingi pagar seluas lebih dari 80 ha. Sementara sebuah sungai buatan yang sangat lebar mengelilingi pagar terluarnya. Diperkirakan dibangun sekitar 9 abad yang lalu oleh Raja Suryavarman II.

Masih dengan pandangan yang menyapu sekeliling karena kagum, kami berdua segera menyeberangi jembatan sungai selebar hampir 200 meter itu. Menuju langsung kearah gerbang utama dengan tembok bebatuan, yang berdiri kokoh laksana benteng. Dibaliknya, terpampang hamparan tanah lapang yang super luas, dengan rerumputan segar berwarna hijau di kiri kanan pedestrian batu yang menuju gerbang di level kedua. Sempat saya berpikir, tanah lapang ini mungkin cukup menarik jika dijadikan latihan Sekolah Sepak Bola, bisa sampai menampung 10 lapangan.

[wpcol_1half id=”” class=”” style=””] [/wpcol_1half] [wpcol_1half_end id=”” class=”” style=””][/wpcol_1half_end]

Cukup jauh juga dari gerbang pertama menuju gerbang kedua, namun setidaknya pemandangan tanah lapang dengan sedikit pohon pinang yang berjajar. Serta keberadaan sepasang candi kecil di kiri kanan pedestrian, cukup menghibur dan mengurangi kelelahan kami. Hingga tanpa terasa, hampir 500 meter kami berjalan, gerbang level kedua telah menyambut dengan beberapa ornamen patung Ular Kobra yang disini dikenal dengan sebutan “Naga”. Setelah gerbang kedua inilah, kami mulai memasuki area yang levelnya lebih tinggi, tower-tower utama Angkor Wat mulai terlihat lebih jelas. Dengan faktor perbandingan skala yang demikian terpaut jauh, ukuran berskala superbesar candi ini seakan “mengintimidasi” kami, para pengunjung.

Diantara gerbang kedua dan level ketiga ini pula, terdapat banyak relief dan ornamen khas Khmer. Semakin tidak sabar, kami segera masuk ke level ketiga yang merupakan area utama dari Kompleks Angkor Temple. Barulah pada area ketiga ini mulai terasa perbedaan yang mencolok. Hanya disini alas candi yang tersusun atas batu-batuan datar yang membentuk alas, tidak seperti di level sebelumnya yang hanya beralas tanah pasir kuning kecoklatan. Di area ini keramaian turis mulai terlihat, lebih semarak lagi dengan keberadaan beberapa muda-mudi Kamboja yang berpakaian ala Khmer kuno sebagai media objek berfoto bersama. Semakin memasuki tangga demi tangga kedalam area utama, kami menyaksikan banyak kemegahan yang luar biasa, patung-patung berukuran besar dengan beberapa orang yang berdoa disekitarnya. Juga empat luasan patirtan (pemandian) yang telah mengering dengan susunan batu-batuan berukir yang rapi dan presisi. Cukup canggih juga di era itu peradaban sudah bisa membangun kolam renang diatas ketinggian.

Rasa kagum kami masih belum habis, apalagi ketika berada disalah satu tower yang cukup tinggi. Pemandangan indah tersaji dari atas sini, gerbang dua dan gerbang satu nun jauh disana terlihat samar di senja menjelang gelap itu. Saya sempat merinding, merasa seolah menjadi seorang Jenderal yang waspada mengawasi musuh dari dalam tower benteng. Tanpa lelah, kami menjelajah satu demi satu masing-masing tower disana. Rasanya seperti menjelajah Candi Prambanan, namun kondisinya lebih megah dengan skala yang dikatakan luar biasa. Walaupun tentunya saya akui kondisinya masih lebih terawat candi-Candi yang ada di Jogjakarta.

Hampir dua jam kami berkeliling mulai dari gerbang Timur, berputar-putar di kompleks utama, serta berjalan menuju gerbang Barat. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Namun disini, kondisinya masih sedikit terang serasa pukul 17.00 di Surabaya. Segera kami bergegas berjalan lagi sejauh hampir 1,5 km menuju Gerbang Timur, karena Sopir Tuk-Tuk kami menunggu disana. Masih saya sempatkan mengambil gambar senja di tepi sungai yang mengelilingi Angkor Temple, sebelum gelap benar-benar menyergap. Walau terasa letih dan lunglai, setidaknya sore ini kami telah menikmati Trekking membelah kemegahan Angkor Wat yang Legendaris.

0 comments on “A Trip to Siem Reap [part 3]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *